News

AS Hancurkan 10 Kapal Ranjau Iran di Selat Hormuz

Istanbul (KABARIN) - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal milik Iran di Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pasukannya telah menargetkan kapal-kapal yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di jalur pelayaran penting tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (10/3), hanya beberapa menit setelah ia memperingatkan Iran agar segera menyingkirkan ranjau dari Selat Hormuz. Jika tidak, Iran disebut akan menghadapi konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami telah menghantam dan sepenuhnya menghancurkan 10 kapal dan/atau perahu penebar ranjau yang tidak aktif, dan masih akan ada lagi," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth juga mengonfirmasi operasi tersebut. Ia mengatakan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan dengan tingkat akurasi tinggi atas arahan langsung dari Trump.

"Kami tidak akan membiarkan teroris menyandera Selat Hormuz," tulis Hegseth di platform media sosial X.

Ia juga menegaskan bahwa Iran telah menerima peringatan resmi dari Amerika Serikat terkait aktivitas tersebut.

Serangan ini terjadi setelah laporan CNN menyebut Iran mulai memasang ranjau di perairan Selat Hormuz. Sejumlah pejabat AS mengatakan Teheran menggunakan kapal-kapal kecil yang masing-masing membawa dua hingga tiga ranjau laut.

Namun, Trump juga mengakui bahwa Amerika Serikat belum memiliki laporan pasti bahwa ranjau tersebut benar-benar sudah ditempatkan di jalur pelayaran utama.

Trump menambahkan bahwa militer AS akan menggunakan teknologi rudal serupa dengan yang sebelumnya digunakan untuk menghancurkan kapal penyelundup narkoba di wilayah Karibia. Teknologi itu akan dipakai untuk menargetkan kapal apa pun yang mencoba menanam ranjau di kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Setiap harinya, lebih dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melewati perairan ini, atau sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak global.

Karena perannya yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia, setiap gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada pasar minyak internasional.

Situasi di kawasan tersebut semakin memanas setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu memicu lonjakan harga minyak global sekaligus meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Trump sebelumnya juga menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi lalu lintas kapal. Ia bahkan memperingatkan bahwa Iran akan diserang 20 kali lebih keras jika mencoba mengganggu aliran minyak di jalur tersebut.

Eskalasi konflik di kawasan ini semakin menjadi perhatian dunia. Sejak operasi militer AS dan Israel dimulai, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Selain itu, sedikitnya delapan personel militer Amerika Serikat juga dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian konflik tersebut.

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: